JAKARTA – Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Syarifuddin Hasan mengapresiasi kehadiran Andi Alvian Mallarangeng sebagai saksi dalam persidangan tersangka kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games.
“Kan bagus kalau dia datang. Sebagai saksi dia patuh terhadap panggilan hukum,” ujar Syarif kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (22/2/2012).
Menteri Koperasi dan UKM itu menyerahkan sepenuhnya kepada majelis hakim untuk menilai terkait perubahan pernyataan Andi dalam persidangan. “Ya, serahkan pada majelis tinggi. Biarkan mereka yang menilai bagaimana,” kata dia.
Sementara ketika ditanya apakah nantinya Dewan Kehormatan Partai Demokrat akan melakukan pemeriksaan serupa terhadap Andi, menurutnya tidak perlu. Sebab sepenuhnya pihaknya menyerahkan kepada penegak hukum. “Ya enggak dong. Bagus dia datang memenuhi panggilan hukum,” kata dia.
Bahkan tentang dugaan bahwa Andi Mallarangeng menerima uang untuk Kongres PD di Bandung pada 2010 lalu, biarlah pengadilan yang mengungkapnya dibandingkan Dewan Kehormatan. “Lebih bagus kalau di pegadilan yang memeriksa dari pada DK,” pungkasnya.
Tag Archives: sea games
Efek Kepergian Idola
“Saya ingin belajar menyanyi karena Whitney. Saya belajar teknik-teknik menyanyi juga dari dia,” urai remaja 13 tahun itu kemarin (13/2).
Kepergian mantan istri Bobby Brown tersebut otomatis memupus impian gadis yang biasa disapa Neta itu untuk bersua penyanyi pujaannya tersebut. Dia mengatakan, setelah mendengar kabar kematian lewat BBM dan Twitter, perasaan gundah langsung menderanya. Bahkan, gadis yang pernah bernyanyi dengan diiringi David Foster itu sampai membatalkan latihan menyanyi.
“Setiap menyanyi, saya ingat dia dan mulai menangis. Saya jadi tidak konsentrasi dan tidak jadi latihan menyanyi,” ucap salah seorang penyanyi pada seremoni penutupan SEA Games XXVI tahun lalu itu. Sejak mendengar berita duka tersebut, tutur Neta, mood-nya langsung hilang untuk beraktivitas. Sebab, dia merasa sangat kehilangan.
KPK: Tahanan Khusus Koruptor Mudah Diawasi
JAKARTA – Pertemuan ilegal terdakwa kasus suap pembangunan wisma atlet SEA Games Muhammad Nazararudin dengan sepupunya yang juga anggota Komisi III DPR M Nasir semakin meyakinkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membangun penjara khusus para koruptor.
“KPK sejak dulu ingin membangun rutan sendiri, dalam rangka KPK bisa secara terus menerus ikut mengawasi, kemudian meminimalisir hal-hal seperti ini,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi, saat konfrensi pers di Jakarta, Kamis (9/2/2012).
Menurut Johan, temuan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana tersebut akan menjadi perhatian serius KPK dengan berkoordinasi dengan Kementrian Hukum dan HAM.
Angelina Sondakh Jadi Bahan Pantun Tifatul
BANDUNG - Menteri Komunikasi dan Informasi Tifathul Sembiring kerap membuat pantun dalam memberikan pernyataan. Kali ini, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu berpantun dengan menyebutkan nama Angelina Sondakh.
Pantun ini disampaikan Tifatul saat hendak menutup pidatonya dalam Peringatan 8 tahun Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) 2004-2012 di Gedung Sabuga ITB, Sabtu (4/2/2012).
“Angelina Sondakh bernyanyi sedih, cukup sudah dan terima kasih,” kata Tifathul.
Mendengar pantun tentang Angie (Angelina Sondakh), tentu saja seribuan mahasiswa ITB yang menghadiri acara MITI tertawa dan bersorak. Sepertinya mereka ingat, bahwa politisi Partai Demokrat itu, baru-baru ini ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games oleh KPK.
Namun usai sorakan mahasiswa, Tifathul mengingatkan mahasiswa sebagai generasi muda yang beruntung. Pasalnya, mereka bisa kuliah terlebih di Kampus ITB. Katanya, sangat sedikit di Indonesia yang bisa lolos untuk kuliah di kampus teknik tertua di Indonesia itu.
Pada awal pidato, Tifatul juga membukanya dengan sebuah pantun. “Kalau bukan sebab tinta takkan ku gubah puisi. Kalau bukan karena cinta, takkan hadir aku di sini,” ujarnya.
Kasus Angie Peringatan untuk Politikus Muda
DENPASAR – Karier politik Angelina Sondakh yang melejit dan akhirnya tersandung kasus dugaan suap Wisma Atlet Sea Games, hendaknya dijadikan peringatan keras bagi para politikus muda di Indonesia agar tidak bermain-main dengan korupsi.
Pascapenetapan standing tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap politikus Partai Demokrat itu, dukungan terus mengalir kepada langkah lembaga super physique tersebut.
“Kita hormati keputusan KPK. Kita dukung sepenuhnya. Tidak ada yang kebal hukum di Indonesia ini,” ujar Ketua Gerakan Pemuda (GP) Anshor Nusron Wahid di sela pelantikan pengurus GP Ansor Bali di Denpasar, Sabtu (4/2/2012).
Meskipun Angie merupakan kader partai yang saat ini berkuasa atau pemenang pemilu, namun sikap tegas dan tidak tebang pilih telah ditunjukkan KPK.
Seperti diketahui, mantan Putri Indonesia tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Jakabaring, Palembang.
Di pihak lain, dalam pandangan Nusron, apa yang dialami Angie harus menjadi peringatan keras bagi semua politikus khususnya para politikus muda Tanah Air.
“Sudahlah, enggak usah main-main dengan yang begitu lagi. Saatnya sekarang menata bangsa. Bangsa ini butuh keseriusan dan ketegasan,” kata Nusron mengingatkan.
Saat ini, kata Nusron, Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur dan baik.
Terkait penanganan kasus yang membelit anggota Komisi X DPR tersebut, dia berharap penegakan hukum dilakukan tetap konsisten dan profesional.
Menteri KIB II Non-Demokrat Bakal Gantikan Anas?
JAKARTA – Sebelum bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Dewan Pembina (Wanbin) Partai Demokrat menggelar rapat membahas kondisi partai.
Dalam pertemuan 23 Januari lalu, Wanbin juga membahas posisi Ketum PD Anas Urbaningrum. Rapat ini menghasilkan keputusan menyodorkan empat nama kepada SBY selaku Ketua Wanbin PD dalam rapat di Puri Cikeas, 24 Januari.
Menurut anggota Wanbin PD Ajeng Ratna Suminar, rapat yang diikuti 20 dari 31 anggota dewan ini langsung dipimpin Marzuki Alie. “(Dipimpin) wakil ketua dewan pembina,” kata Ajeng di Gedung DPR, Jakarta, Senin (30/1/2012).
Dia menjelaskan, dalam rapat itu Wanbin menyoroti kondisi inner partai yang terus disorot karena perkara suap wisma atlet SEA Games. Setelah mendengar masukan dari anggota Wanbin, akhirnya disepakati empat calon pengganti Anas.
“Ketua umum sedang ada indikasi masalah, hal yang wajar kalau dibicarakan. Cuma, bukan berarti diganti begitu saja. Kalau memang dia sudah terlibat, itu kan sudah jelas ke partai kita dampaknya lain. Jadi bagaimana diganti atau tidak, kalau sudah ada indikasi,” jelas Ajeng.
Empat calon ini, kata dia, berasal dari dewan pembina, DPP, dan satu menteri yang tidak masuk dalam struktur kepengurusan partai. “Dalam artian orang dekat, simpatisan bukan kader,” imbuh dia.
Haram, Habisi Karir Lawan Politik di Era Demokrasi
JAKARTA – Pengamat Politik dari LIPI Siti Zuhro mengatakan tidak sepantasnya para politikus menghalalkan segala cara dalam berkompetisi di negara berdemokrasi seperti Indonesia. Hal tersebut dikatakan Siti menanggapi pernyataan Ketua DPP Partai Demokrat, we Gede Pasek Suardika adanya pihak-pihak yang menginginkan runtuhnya karir politik Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
“Partai politik kompetisi antar kader di inner apalagi antar partai itu biasa terjadi. Kita mestinya dizaman demokrasi memberikan peluang kepada siapapun untuk berkompetisi, tapi bukan dengan cara menghabisi karir seseorang,” ujar Siti kepada okezone, Minggu (29/1/2012).
Paket "Printer" untuk Wayan Koster
Di hadapan majelis hakim yang diketuai Darmawati Ningsih, Lufhfi mengaku pernah disuruh Yulianis mengantar uang ke politisi PDI Perjuangan itu pada 5 Mei 2010. Total uang yang diserahkan dari Permai Grup ke Wayan Koster mencapai Rp 5 miliar.
Lutfi membeberkan, uang untuk Wayan Koster diberikan dalam dua kali penyerahan di hari yang sama. Untuk uang Rp 2 miliar yang diantar pagi hari, dibungkus dalam kardus printer.
Sebelum diserahkan ke Wayan Koster, Lutfie mengaku terlebih dulu mengirim pesan ke Mindo Rosilona Manulang, manajer selling di PT Anak Negeri yang juga anak perusahaan Permai Grup. “Saya kirim SMS ke Bu Rosa, ini titipannya mau dikasih ke siapa. Dijawab ke Wayan Koster di lantai enam (gedung DPR RI,red)” kata Lutfi.
Angie Datang Saat Sudah Ada Uang
JAKARTA - Lutfi Ardiansyah, sopir di Permai Grup yang menjadi saksi persidangan kasus suap Wisma Atlet dengan terdakwa M Nazaruddin, mengaku pernah melihat Angelina Sondakh memasuki ruangan kerja we Wayan Koster. Angelina memasuki ruangan kerja koleganya di DPR itu sesaat setelah uang Rp 5 miliar diantar dari perusahaan M Nnzaruddin pada 5 Mei 2010.
Saat bersaksi pada persidangan atas Nazaruddin di pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (27/1) malam, Lutfi mengatakan bahwa dirinya diperintah oleh Wakil Direktur Keuangan Permai Grup, Yulianis, mengantar uang ke Wayan Koster di lantai 6 gedung DPR RI. Uang sebesar Rp 5 miliar itu diserahkan dalam dua tahap, yakni Rp 2 miliar di pagi hari dan Rp 3 miliar di bruise harinya.
Pimpinan Banggar Perlu Dikonfrontir dengan Sekjen DPR
JAKARTA – Pimpinan DPR menyerahkan sepenuhnya kontroversi proyek renovasi ruang rapat Badan Anggaran DPR senilai Rp20 miliar kepada Badan Kehormatan DPR. Saat ini pemeriksaan BK terhadap seluruh pihak yang terlibat proyek itu masih berlangsung guna mencari pihak yang mengusulkan, memanfaatkan maupun yang menentukan spesifik properti ruangan.
Wakil Ketua DPR Pramono Anung menjelaskan, jika pemeriksaan sudah selesai, BK akan menyerahkan laporan kepada pimpinan DPR.
“Persoalan ini sudah ditangani BK, BK punya kewenangan yang dimiliki. Nanti kan akan dilakukan pendalaman siapa yang meminta, menggunakan, dan memanfaatkan akan ketahuan,” ujar Pramono di Gedung DPR Senayan Jakarta, Kamis (19/1/2012).
Usai meminta keterangan Sekjen DPR Nining Indra Saleh, pagi ini BK memanggil seluruh pimpinan Banggar yakni Melchias Markus Mekeng, Mirwan Amir, Olly Dondokambey dan Tamsil Linrung. Keempatnya pernah pula dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus korupsi proyek wisma atlet SEA Games di Palembang.
Pram menambahkan, jika usai diperiksa, para pimpinan Banggar masih juga saling tuding satu sama lain, bisa saja dilakukan konfrontir oleh BK. “Namun pimpinan menyerahkan kepada BK,” katanya.
Secara terpisah, Ketua BK Muhammad Prakosa mengaku tidak tahu-menahu soal rekaman perbincangan anggota Banggar soal penentuan spesifikasi barang-barang pelengkap di ruang rapat Banggar, termasuk impor kursi seharga Rp24 juta dari Jerman. Keberadaan rekaman itu sebelumnya disampaikan Nining kepada pimpinan DPR.